Better Education for All

Better Education for All

After such a long hiatus in posting and after encountering my own fear to be involve again in a social forum, I came to PS Bloggers Gathering last night at Es Teller 77 Adityawarman. (This is gonna be a long long post, pardon me)

Education to Employment: Preparing Globally Competent and Highly Employable Indonesians.

That was the theme last night. The speakers are Iwan Setiawan (author of “9 summers 10 autumns”) and Chris Crow (US Fullbright Scholarship Alumnus). We shares our concerns about Education in Indonesia, Chris also presented USBI that offers many fun ways to educate young people.

Just yesterday morning, I read an article about how Indonesians are lazy to read and Mas Iwan also highlighted these thing in his sharing session. He said that in Indonesia, students are not encouraged to read because most of us are just memorizing the lesson for a good grade, not to make ourselves understand the subjects. Chris also share his experience when he was teaching english in Maluku, he said that students there, are good at answering close ended question, while they found an open ended question very hard to answer. I guess this problematic fact root once again to “reading habit”. In the article I’ve read earlier, the writer shared that he was mocked overseas because he said that his hobby is reading. Reading is not a hobby overseas, they just read, while in Indonesia we classified reading as an hobby so people who stated their hobby is watch movie, they probably never read.

Okay, supaya lebih banyak yang mau membaca, saya rasa sebaiknya post ini ditulis dalam bahasa saja.

Kembali kepada apa yang dikatakan mas Iwan. Rendahnya minat baca orang Indonesia membuat banyak orang-orang yang tidak kaya jiwanya, karena membaca mengasah emosi kita. Menurut saya, ketika kita membaca, kita bisa memahami dunia yang berbeda dengan apa yang kita jalani sehari-hari dan itu jelas membuat cara pandang kita menjadi lebih luas. Saya dibesarkan dalam keluarga yang sangat suka membaca. Membaca apa saja. Toko buku adalah tujuan wisata akhir pekan kami, saya diberi kebebasan untuk memilih buku apa saja yang saya suka. Karena dibesarkan dekat dengan dunia buku, saya menyangka semua orang juga begitu. Hingga saya bertemu dengan teman-teman saya yang takjub ketika melihat koleksi buku saya dan bingung ketika saya minta menemani ke Toko Buku. Itu mengagetkan saya dan membuat saya akhirnya mensyukuri pola asuh orang tua saya yang mendekatkan saya dengan dunia literatur, karena tidak dipungkiri, saya banyak belajar kosa kata dan istilah-istilah dari buku-buku yang saya baca. Inilah yang membuat saya sering “nggak nyambung” ketika ngobrol sama teman saya. oh iya, teman-teman, bukan hanya teman. #miris

Setelah membaca, Skill dasar yang harus dimiliki para pemuda Indonesia adalah Menulis. Menulis itu membuat kita “ada” dan “abadi”. Kemudian perbaiki cara kita berkomunikasi, perbaiki bahasa asing kita, saat ini mungkin Inggris adalah bahasa utama sehingga kemampuan kita berkomunikasi dalam bahasa inggris sangat membantu kita dalam persaingan global.

Ada satu hal yang sangat berbeda diantara sistem pendidikan kita dengan luar negeri, terurama Amerika, yaitu “Debat”. Kata mas Iwan, kita sebaiknya mulai membiasakan pelajar dengan debat, tetapi debat yang elegant dan sophisticated. Dengan berdebat, kita akan mempersiapkan diri kita dengan argumen-argumen yang berdasarkan fakta dan ini tentu saja menorong kita untuk membaca lebih banyak dan melatih kemampuan kita berkomunikasi agar pendapat kita mudah dipahami orang lain, atau bahkan dapat mempengaruhi orang lain untuk sependapat dengan kita. This is a basic skill that really important in life. We need to present our self like we are facing a debate. Broaden your knowledge, understand what you stand for, share our arguments nicely, influence other smoothly.

Last not least, “Personality”. Menurut mas Iwan, kita harus melatih kepribadian kita agar tau bagaimana membesarkan hati orang lain dan menerima orang lain. Kita harus menjadi orang pintar yang dapat membuat orang lain nyaman dan mau melakukan sesuatu untuk orang lain agar kita tidak menjadi orang pintar yang tersesat karena kata mas Iwan, banyak orang pintar yang get lost karena tidak punya wisdom. Confidence is also an important one. Indonesian lack of self confidence, padahal kita sebenarnya punya kemampuan untuk bersaing. Rendahnya kepercayaan diri membuat kita sulit untuk mengungkapkan pendapat kita. Ini juga mungkin disebabkan karena sistem pendidikan kita yang kurang mendorong partisipasi aktif siswa yang menimbulkan perasaan takut salah.

Naahhh.. balik lagi kan permasalahannya ke sistem pendidikan, cara belajar dan mengajar di Indonesia, yang tentu saja berujung ke kurikulum. Sistem kurikulum yang berkutat dengan evaluasi hasil belajar siswa tanpa menilik proses yang mereka lalui. Guru berbondong-bondong mendorong siswa untuk meraih nilai tinggi dengan berbagai macam cara, tetapi lupa bahwa yang dibutuhkan untuk survive bukan nilai, melainkan pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki.

We need to move, to make a better Indonesia, alat yang paling dasar tentu saja pendidikan, tetapi kita tidak bisa menunggu kurikulum berubah lebih baik. Kita tidak boleh bergantung dengan pemerintah, karena mungkin mereka masih banyak urusan lain yang lebih penting dari pada menghasilkan kurikulum yang lebih manusiawi.

Kalau ada yang ingin mencoba pendidikan yang bermutu, dengan biaya tidak tinggi tetapi menghasilkan lulusan yang mampu bersaing secara global, dengan gelar yang terakreditasi di USA pula. Join USBI deh.. untuk lebih lanjutnya coba di klik websitenya mereka. Saya rasa ini adalah langkah yang baik dari “we need to make a move without waiting for the government”.

Etapi.. kalo kita semua act without waiting for the government to change, siapa yang bakal ngerubah Pemerintah kita? Saya rasa kita juga harus mempersiapkan generasi yang mampu menjalankan pemerintahan dengan lebih baik. We can’t ignore them forever, right?

ehiya.. Thanks ya PSF for the goodiebag.. 😀



4 Comments

Kadang kalu nulis blog kuatir bakal jadi kayak Pak Beye… Tapi saya teringat beliau pas baca kaka pu tulisan.

Reply

yayaya.. maybe we share something in common then..

Reply

Actually, I tend to think or write in english when I’m getting emotional…

Reply

and I’m always emotional in writing

Reply

Leave a Reply

Skip to toolbar