knock..knock..

..bukan janji, tapi ini kisah tentang bukti..

Pagi ini aku terbangun oleh ketukan lembut di pintu kamarku dan aku tahu bahwa tidak ada orang yang mengetuk pintu itu. Hal ini bukan terjadi kali ini saja, sudah hampir seminggu aku terbangun karena ketukan itu. Hari pertama dan kedua kejadian ini, aku masih begitu penasaran hingga mengejar ke luar pagar, untuk memastikan siapa yang iseng mengetuk pintu kamarku sepagi ini, namun tidak ada tanda bahwa pernah ada orang yang memasuki rumahku, karena aku memang tinggal sendiri di rumah ini.

Kali ini, aku sudah terbiasa dengan ketukan ini dan begitu yakin sehingga tidak perlu mengejar pembuat ketukan misterius itu lagi. Aku beranjak ke kamar mandi untuk melakukan rutinitas pagiku. Dingin air yang mengaliri badanku membuat aku merasa sangat bersemangat untuk menjalani hari ini, hari yang aku tahu pasti akan sangat menarik. Hari ini aku akan mengajukan surat pengunduran diriku, aku sudah begitu letih untuk terus berada dalam lingkaran setan ini. Aku sudah begitu muak dengan semua kebohongan yang dilakukan orang-orang dikantorku.

Setelah melalui jalan yang begitu padat dan penuh polusi, akhirnya aku merasakan kembali dinginnya ruangan kantorku, yang masih sangat sepi sepagi ini. Ku langkahkan kakiku menuju ruangan 4×4 meter tempatku menyelesaikan pekerjaanku selama ini. Sejujurnya aku sangat menyenangi ruangan ini, meja kerja kesukaanku dan kursi empuk yang membuat aku terkadang mengantuk. Ku hirup dalam-dalam aroma lavender dari pewangi ruangan favoritku, karena aku tahu aku akan merindukan suasana tenang dalam ruangan ini, aroma ini, suara PC ku yang begitu hingar dan tentu saja, pola wallpaper yang aku pilih sendiri, tapi aku tidak boleh goyah, aku sudah memutuskan untuk resign, dan aku akan melakukannya sebentar lagi….hanya sebentar lagi.

Ku lirik arloji hitam kesayanganku, sudah hampir pukul 08.00. Suara riuh rendah orang berbicara sudah mulai terdengar di luar. Ku pejamkan mata ku untuk menghadirkan imaji ruangan ini sekali lagi, mungkin untuk yang terakhir kalinya, ku hirup nafas dalam-dalam. Dengan mantap ku buka mata dan melangkah keluar, menuju ruangan pimpinan.

Sedikit gugup ketika aku harus melewati lorong penuh kubikel ini, dengan teman-teman menyapa seperti biasa, ada yang sedang menikmati kopi hangat yang aromanya begitu menggoda bahkan ada yang melanjutkan tidurnya yang mungkin tadi harus terhenti dengan rutinitas jalan di pagi hari.

“tok..tok..” Kali ini aku yang membuat suara ketukan, terdengar seruan masuk dari dalam ruangan itu.

“Oh..kamu toh Rasyi? Monggo silahkan duduk..” Sapa Pak Okta, pimpinanku dengan ramah dan penuh senyum. Ku balas senyum Pak Okta dan duduk di kursi yang beliau tunjuk.
“Sebentar ya Rasyi, saya harus menyelesaikan dokumen ini segera.” Kata beliau.
“Baik pak, tidak apa-apa, silahkan saja.” Jawabku dan keheningan pun dimulai.

Pak Okta sibuk mengetik dan aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku teringat pertama kali masuk ruangan ini, persis 2 tahun yang lalu, untuk wawancara. Ketika itu aku masuk dengan sangat bersemangat dan pikiran yang penuh dengan rancangan jawaban yang kira-kira bisa membuat aku diterima disini, perusahaan multinasional bergengsi yang sangat diminati oleh banyak Fresh Graduate seperti aku saat itu. Kenangan selanjutnya dengan ruangan ini masih diliputi dengan perasaan sangat menyenangkan karena berhasil diterima mengalahkan ribuan calon karyawan yang lain dan langsung menduduki posisi Asisten Manager HRD karena pengalaman ku yang sangat banyak semasa kuliah. Di ruangan inilah aku disambut oleh Pak Okta dan Pak Vian, Manajer HRD dan Senior Asisten Manajer HRD dan diberi penjelasan mengenai tanggung jawab dan tugas yang akan aku kerjakan mulai keesokan harinya. Begitu membahagiakan…

Sudah tidak terhitung berapa kali dan berapa banyak kenanganku di ruangan ini. Bahagia, sedih, kecewa, marah, semua pernah aku rasakan disini, namun beberapa bulan terakhir ini suasana ruangan ini sangat tidak nyaman. Setelah dua tahun bekerja disini aku sudah memahami seluk beluk kantor yang sangat bergengsi ini, dan kenyataan yang aku temui di dalam gedung mewah kantor ini sangat jauh dari kemewahan visul yang dan gengsi sosial yang ditawarkan. Sistem yang berjalan di kantor ini sangat busuk, mungkin sama busuknya dengan sistem yang dijalankan di kantor pemerintahan.

Skandal demi skandal aku temui terjadi dan sudah menjadi rahasia umum di kantor ini. Bagaimana Divisi Keuangan mengelabui pajak, bagaimana Divisi Produksi mengelabui karyawan sendiri dengan mengatakan bahwa kinerja mereka belum cukup untuk menghasilkan keuntungan yang besar bagi perusahaan ini sehingga mereka tidak pantas untuk mendapatkan bonus, bagaimana Divisi CSR mengelabui masyarakat dengan memberikan banyak bantuan namun tanpa mereka sadari lingkungan mereka tinggal sudah kami kotori dengan polusi dan memberi mereka banyak bibit penyakit. Banyak hal yang membuat aku jengah dengan perusahaan ini, namun aku masih bisa bertahan hingga titik puncak ketika aku yang harus melakukan tindakan setan itu.

Kejadian menyakitkan itu ku putar ulang dalam pikiran. Ruangan ini, sekitar dua bulan yang lalu, aku dipanggil Pak Okta karena Bapak Kepala Cabang ingin bertemu denganku. Banyak dugaan yang muncul ketika aku memasuki ruangan ini dan bertemu Bapak Kepala Cabang yang masih cukup muda, dengan senyum yang membuat aku sadar bahwa beliau sangat tampan dan menarik. Namun sayang, tingkah lakunya tidak sebaik wajahnya, karena tujuan kedatangannya kesini adalah untuk menginstruksikan kepadaku agar aku merekayasa hasil penilaian kinerja karyawan tahun ini. Beliau ingin aku mengeluarkan hasil palsu untuk beberapa orang yang tidak beliau sukai, membuat penilaian kinerja mereka menjadi begitu buruk dan merekomendasikan perusahaan untuk memecat mereka agar posisi mereka kosong dan beliau bisa memasukkan beberapa keluarganya untuk menggantikan posisi tersebut. aku tidak bisa berkata apa-apa saat itu, aku hanya bisa mengangguk saat beliau mengatakan bahwa beliau akan membunuh orang tua ku di kampung jika aku tidak menuruti keinginan beliau.

Akhirnya aku melaksanakan kemauan sang Kepala Cabang dan perusahaan  pun memecat beberapa karyawan tak bersalah tersebut. Aku sangat merasa bersalah hingga suatu hari aku menemukan surat di atas meja kantorku yang berisi kebencian. Salah seorang karyawan itu sangat membenciku dan menganggap aku harus bertanggung jawab atas penderitaannya setelah ia tidak punya pekerjaan lagi, dan setelah aku membuang surat itu, aku mendengar kehebohan di luar ruanganku yang ternyata baru saja mendapatkan kabar bahwa orang yang mengirimkan aku surat itu baru saja ditemukan mati bunuh diri di lantai Basement gedung ini. Hari itulah hari pertama aku mendengar ketukan tak berwujud di pintu kamarku, tepat satu minggu yang lalu.

Saat itu aku benar-benar merasa hancur dan merasa menjadi orang paling jahat di dunia. Kejadian yang membuat aku lebih hancur lagi terjadi dua hari setelah kejadian bunuh diri itu atau sekitar 4 hari yang lalu, kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan mobil dalam perjalanan mereka mengunjungi ku.

“ehm..ehm” Ku dengar suara Pak Okta berdehem, menyadarkanku dari kilasan peristiwa-peristiwa menyakitkan itu. Aku tersenyum malu karena kedapatan melamun oleh Pak Okta, dan beliau hanya tersenyum lembut.
“Ada apa Rasyi, kamu datang kesini pagi sekali. Tidak biasanya” Kata Pak Okta membuka percakapan.
“Saya ingin mengajukan surat pengunduran diri Pak” ucapku dengan cepat sambil menyerahkan surat ke Pak Okta, ingin proses ini segera usai dan aku bisa segera merebahkan diri di kasur empuk kamarku.
“Hm..” Gumam Pak Okta, wajah beliau tidak terlihat terkejut, mungkin beliau memang sudah menduga hal ini akan terjadi, atau jangan-jangan beliau memang mengharapkan aku mengundurkan diri. Ah…. aku harus menyingkirkan pikiran-pikiran buruk ini…
“Baiklah Rasyi..” Pak Okta kembali memulai percakapan setelah selesai membaca surat pengunduran diriku. “Bapak paham kamu sedang dalam keadaan sangat tertekan dan Bapak sangat maklum jika kamu ingin menikmati waktu sendiri dan menjauh dari suasana kantor ini.” Pak Okta menghela nafas sejenak, “Surat ini Saya terima, pengunduran diri kamu juga saya terima, tapi kalau kamu sudah kuat dan ingin kembali ke sini, Bapak akan dengan senang hati menerima kamu kembali.” Kata Pak Okta yang membuat aku sedikit terharu.
“Baik Pak, terimakasih banyak atas semua bimbingan Bapak selama ini, saya mohon pamit Pak, salam buat teman-teman yang lain, saya mungkin tidak terlalu kuat untuk berpamitan ke mereka. Sekali lagi terimakasih Pak.” Ujarku sambil berdiri menyalami Pak Okta.

Aku berpamitan dan kembali keruanganku untuk mengambil barang-barangku dan kembali ke mobil, pulang…

Ku rebahkan diri di kasur setelah selesai menyantap makan siang masakanku sendiri, sendiri di rumah dan sendiri di kehidupanku, karena setelah orang tuaku meninggal, aku benar-benar sudah tidak punya keluarga lagi. Aku menikmati sore hari dengan membaca buku di halaman belakang rumah ku. Sungguh tenang. Aroma buku baru yang aku baca, aroma bunga dan bercampur dengan aroma kopi hangat membuat aku merasa nyaman dan bisa membuat aku tidak bergerak hingga berjam-jam dan malam telah datang menghampiri.

Kembali aku berbaring setelah kantuk menyerangku, aku menyusun rencana untuk memulai hidupku yang baru esok, karena memang kebiasaanku untuk menyusun rencana visual dalam pikiranku sebelum aku tidur. Besok aku berencana bertemu dengan teman semasa kuliah ku untuk membicarakan rencana kami membuka Pusat Rehabilitasi Korban Perkosaan, karena jumlahnya sudah sangat meningkat belakangan ini. Setelah puas dengan rencana yang tersusun rapi di pikiran ku, akhirnya aku dapat terlelap.

Keesokan harinya aku kembali terbangun oleh ketukan, namun kali ini aku merasa itu ketukan yang berbeda, karena tidak selembut biasanya. Ketukan ini begitu kasar dan diikuti dengan suara pintu dibuka. Aku langsung terduduk kaget karena aku tinggal sendiri di rumah, lalu siapa yang membuka pintu itu. Tidak ada oran lain yang memegang kunci rumah selain aku, bahkan pembantuku pun hanya datang jika aku ada di rumah.

“Rasyi, ini obat kamu belum diminum, diminum dulu ya, baru kamu mandi lalu sarapan” Ujar orang yang membuka pintu tadi sambil meletakkan obat disampingku. Aku tidak mengenal orang tersebut, dia berbaju seperti perawat, tetapi aku tidak sakit dan aku tidak paham bagaimana dia bisa berada di rumahku.
“Kamu siapa? Kenapa bisa masuk kekamarku?? Kamu dapat dari mana kunci rumahku?? Obat apa ini? aku tidak sakit!” Teriakku histeris ketakutan.
“Tenang Rasyi, tarik napas sayang.” Ujar orang itu lembut, “Kamu minum obat ini dulu biar tenang, ya?” lanjutnya.
“Tidak! Tidak mau! aku tidak kenal siapa anda, dan kenapa aku harus minum obat ini! Keluar dari rumahku!” kembali aku berteriak.

Tiba-tiba aku merasa seperti ada jarum yang menusuk lenganku dan setelah itu aku merasa sangat tenang, sangat damai dan kepalaku mulai terasa ringan, aku pun tidak merasa ketakutan lagi, padahal saat itu aku melihat ada orang lain yang masuk kamarku.

“Bagaimana keadaannya Sus?” Tanya orang baru tersebut.
“Masih sering histeris, tadi malam sepertinya dia mengalami mimpi yang berat lagi karena laporan REMnya mengindikasikan demikian, dia masih sangat bergantung pada obat penenang ini, jika tidak ia akan kembali histeris dan masuk kembali ke dunia khayalannya.” Jawab wanita berbaju putih yang dipanggil Sus itu.

Aku hanya bisa terbaring dan tak bisa menggerakkan anggota tubuhku. Aku hanya bisa mendengar pembicaraan mereka tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Kasihan dia Sus, kenyataan sangat berat untuk dia hadapi. Bayangkan saja, dia diperkosa oleh pimpinan kantor cabangnya dan tidak ada orang yang mau membantu dia untuk menuntut keadilan, bahkan orang tuanya saja tidak percaya padanya. Saya bukan mau membenarkan tindakannya yang akhirnya membunuh orang tuanya, Sus, hanya saja… menjadi korban perkosaan itu sangat berat tanpa harus dituduh pelacur oleh keluarga sendiri.” Kata orang asing itu.
“Iya Pak, saya tahu, itulah kenapa saya sangat intensif merawatnya, karena saya punya seorang adik yang menjadi korban pemerkosaan juga.” Kata Sus dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“oh, saya tidak tahu, maafkan saya, Suster…” Kata Pria tersebut.
Sambil berjalan keluar Suster tersebut hanya tersenyum dan berkata, ” Tidak apa-apa Pak. Rasyi beruntung ada Bapak yang selalu mengunjunginya, saya yakin Rasyi akan bisa kembali normal Pak.”
“Amiin.. Saya juga sangat yakin Sus..” Pria itu membalas senyum Suster yang kemudian menutup pintu kamar.

Aku mulai mengantuk mendengar obrolan mereka yang tidak aku mengerti. aku memejamkan mataku… namun sebelum tertidur, aku merasa seseorang membelai rambutku dengan lembut dan aku merasa kecupan di keningku dan kemudian aku mendengar ada suara pria yang berbisik….

“Aku tetap sayang kamu, Rasyi.”

-Jakarta, 18 Agustus 2011- 
originally posted in here



2 Comments

pertamax ta.. :p

pinter banget ya nulisnya..

ajarin dong..

btw maen k blog kakak yaa.. 😀

Reply

aahhh.. kakak bacaaa.. jadi maluuuu… iya siapppp.. 😀

Reply

Leave a Reply

Skip to toolbar