Labelling

Labelling

Menyambung post ini, saya juga ingin membagi opini saya mengenai hal lain yang bisa menimbulkan prasangka, bukan hanya diturunkan oleh orang tua kita saja.

Beberapa waktu yang lalu saya dapat curhatan dari seorang teman yang lagi ada masalah dengan beberapa orang temannya. Mungkin sebelum saya bercerita lebih jauh, saya beri ilustrasi nya dulu ya..

Panggil saja Bunga (ini bukan cerita kriminal lho ya), dia baru pindah kantor, jadi di kantornya itu seperti kantor yang lain, pegawai baru pasti ditraining dulu dan pake sistem angkatan atau batch atau teman seperguruan atau teman sepermainan atau entahlah apa namanya lagi yang lain. Pada awal masa training, Bunga dan teman-temannya cukup akur hingga menjelang akhir masa training mereka, mulai terjadi perpecahan. Setelah masa training mereka selesai dan masing-masing sudah ditempatkan pada bagian yang sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka maka masa kebersamaan mereka pun berkurang sehingga perpecahan yang awalnya hanya bibit saja, kini mulai tumbuh dan bersemi *ini juga bukan pelajaran bercocok tanam lho* dan angkatan Bunga pun akhirnya pecah menjadi dua kubu. Suatu waktu, kantor mereka mengadakan gathering namun Bunga berhalangan hadir karena dia harus menjenguk anjingnya yang sakit. Setelah kembali dari perjalanan panjangnya *koq makin lama bahasa ilustrasi ini semakin aneh ya?* *biarin ah, yang penting pahamkaaan??* *ngomong ama cermin*, Bunga kaget karena seorang teman dekatnya *sebut saja kumbang* bercerita bahwa ada teman seangkatannya  *sebut saja Kembang* yang bertanya pada Kumbang , kira-kira begini percakapan mereka :

Kembang : “mana temen-temen lo yang lain?”

Kumbang : “ha? temen-temen gue? bukannya mereka juga temen-temen lo?”

Kembang : “eh, iya maksudnya, mana anak-anak yang lain?”

-/.-/-/.-

Long story short, percakapan itulah yang membuat Bunga sedih dan juga membuat saya berpikir miris, bagaimana persahabatan bisa retak dan pecah. Hal ini tidak hanya terjadi pada Bunga tapi saya yakin kita semua hampir pernah mengalami hal yang sama sampai ada kalimat “it’s really nice when a stranger become friend, but it hurts more when a friend become stranger.

Kembali pada perihal prasangka, bisa muncul kata-kata “temen lo” oleh Kembang adalah bukti bahwa sudah terjadi reklasifikasi, atau pengelompokan ulang yang awalnya mereka adalah satu kelompok kini, menjadi dua kelompok dan tidak dipungkiri bahwa perlakuan masing-masing anggota kelompok tersebut akan berbeda antara teman sekelompok dan teman yang berbeda kelompok dan mereka akan mulai membentuk sebuah “stereotipe” atas anggota kelompok lain.

Stereotipe inilah yang memunculkan prasangka antar kelompok dan muncullah yang disebut homogenitas outgroup dimana kita menganggap orang di luar kelompok kita itu mirip bahkan sama dalam segala hal atau yang sekarang sering dipakai adalah istilah “generalisasi.”

Dari ilustrasi diatas dan post sebelum ini, kita bisa paham bahwa prasangka tidak hanya diturunkan dari orang tua ke anak, tapi juga terbentuk karena pergaulan sosial dan kebutuhan individu akan konformitas kelompok. Identitas kelompok menjadi penentu penting dalam perjalanan hidup manusia dan biasanya mereka akan mengikuti norma kelompok di mana cara berpikir dan bertindak mereka pun akan sangat dipengaruhi oleh norma kelompok dan orang-orang dalam kelompok tersebut.

Masalah yang terjadi pada Bunga dan teman-temannya itu mungkin diawali oleh salah paham atau adanya perbedaan pendapat antara mereka yang tidak diselesaikan dengan tuntas sehingga menimbulkan perbincangan dibelakang yang hasilnya membuat polarisasi kelompok, terbentuknya kubu dalam sebuah kelompok, dan bukannya diselesaikan atau mencari jalan tengahnya, mereka tampaknya malah memperuncing perbedaan di antara mereka sehingga membuat pengambilan keputusan bersama pun semakin sulit.

Adanya prasangka yang mulai muncul antar kelompok mebuat penyatuan kembali menjadi sedikit lebih sulit, karena masing-masing anggota kelompok sadar maupun tidak sadar mulai mempercayai bahwa mereka lebih baik dari anggota kelompok yang lain. Jika prasangka antar kelompok yang diturunkan antar generasi mungkin bisa dihilangkan dengan membuka interaksi antara dua kelompok yang berprasangka agar masing-masing anggota dapat mengubah pendapat mereka tentang kelompok yang lain, maka prasangka yang muncul karena interaksi seperti yang terjadi pada Bunga mungkin bisa dihilangkan dengan bantuan pihak ketiga yang menengahi secara terbuka atau bisa juga menyusup ke dalam kelompok mereka dan secara perlahan memberikan pemahaman baru akan kelompok yang lain dan pengelompokan ulang pun mungkin bisa dilakukan sehingga istilah “temen-temen lu” tidak akan muncul lagi.



4 Comments

setuju mbak..
nggak enk banget kalo pergaulan dikelompokkan ky gtu..

Reply

iyak betul kak.. jadinya hubungannya berubah kaku.. 😀

Reply

iya ta, udahlah kaku nggak bs byk punya teman jadinya..

Reply

iya kak, gak ada yang mau bekawan ama orang yang hobinya mengkotak-kotakkan teman.. hehee

Reply

Leave a Reply

Skip to toolbar