…Merah Putihku…

masih ingatkah kau kawan, saat kita bersama mengangkat bambu runcing untuk mengusir pasukan berwajah pucat itu??

masih ingatkah kau kawan, saat kita saling melindungi menghindar dari peluru-peluru yang berdesing dekat dengan kepala kita??

masih ingatkah kau kawan, betapa harunya kita saat melihat Sang Saka Merah Putih akhirnya dikibarkan??

…aku masih ingat air mata kita saat Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan kita,,

…aku masih ingat sakitnya saat tertembak ketika Pasukan Pucat itu kembali mencoba mengambil kemerdekaan kita,,

…aku masih ingat perihnya ketika nusantara kita dipecah-pecah oleh mereka yang dengan senang hati mendirikan negara-negara bonekanya,,

………kini lama tak ku dengar bunyi letusan senjata itu,,

………kini lama tak ku cium wangi mesiu yang berhamburan di udara,,

………kini lama tak kulihat darah bersimbah di jalanan,,

aku kira kita sudah merdeka,,

aku kira kita sudah bisa berbahagia,,

ternyata aku salah,,

aku benar-benar salah,,

mungkin benar kita sudah merdeka, kawan…

mungkin benar kita sudah tak perlu berperang, kawan…

tapi apa yang sedang kita hadapi ini kawan??

ini lebih mengerikan dari perang saling tembak itu,,

ini lebih dari sekedar mempertahankan kemerdekaan,,

ini perjuangan untuk kehidupan,,

bukan kehidupan kita, tapi kehidupan para penerus kita,,

aku sekarat, kawan..

sangat sekarat..

aku butuh energi baru,,

aku butuh semangat baru,,

aku sakit, kawan,,

semakin hari semakin sakit,,

sakit ketika ku tahu apa yang tengah terjadi kini,,

mereka enggan menghormat ketika Merah Putih dikibarkan,,

mereka malu memakai barang hasil produksi saudara kita sesama pribumi,,

mereka senang memperkaya negeri lain, kawan,,

mereka hanya menonton ketika nusantara kita kembali dipecah oleh orang lain,,

bahkan ada yang lebih menyakiti aku hingga aku rasanya bisa mati dalam beberapa detik saja, kawan,,

..kini mereka bukan mengangkat senjata untuk merdeka, tapi untuk saling membunuh, kawan,,

membunuh saudara mereka sendiri,,

..kini yang mengaku wakil rakyat bukan lagi bekerja demi kepentingan rakyat, kawan,,

mereka kini bergelut dalam kemelut kepentingan mereka sendiri,,

..kini yang mengaku cendekiawan hanya mampu menggugat dan menuntut saja, kawan,,

tak lagi mereka mampu bersolusi dan malah mengarah ke disintegrasi,,

semuanya kini buram, kawan,,

rasanya sebentar lagi mataku akan tertutup untuk selamanya,,

tapi aku ingin mengatakan satu hal padamu,,

ku harap engkau mengingat, meresapi, dan melaksanakan wasiat terakhir ku ini, kawan..

tak banyak,,

hanya satu kalimat,,

NKRI HARGA MATI!!



Leave a Reply

Skip to toolbar