prosa pekerja

prosa pekerja

dingin ini menusuk tulangku,,

hadirkan sekelebat lelah yang menggantung,,

terpaksa memaksakan mata membuka,,

demi sejengkal rezeki yang dapat dikais hari ini,,

telah lama aku merindukan pagi seperti dulu,,

dimana aku masih bisa menyapa matahari dengan senyum,,

melambai kepada embun,,

dan melangkah pelan menyusuri rerumputan,,

kini tak mungkin aku bisa kembali menelaah pagi,,

beban dipundak ini terlalu berat untuk diajak melangkah perlahan,,

liur serigala itu terlalu menakutkan untuk dibiarkan mengejar,,

semuanya kini sedang berpusar,,

pada langkah yang kini tergesa,,

pada nafas yang kini berpacu,,

di sela asap dan keringat yang membaur,,

dinaungan awan yang kehilangan cerahnya,,

kini aku disini,,

bersama para pemburu lainnya,,

memburu kesempatan untuk tetap hidup esok hari,,



Leave a Reply

Skip to toolbar